Sumpah Pemuda Mengajari Kita Bersatu Dalam Perbedaan

Vetris bersama anak-anak dari Papua
Iklan A2https://www.melanesian.id/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-09-30-at-20.04.53.jpeg
Oleh : Vetris
Sekedar mengingatkan, 92 tahun yang lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, saat itu di tengah suasana penjajahan Belanda yang serba dibatasi, justru Pemuda Indonesia berkumpul untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan dengan mengikrarkan diri Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu, Berbahasa Satu yakni Indonesia.
Sangat jelas dari kalimat yang diikrarkan, bahwa saat itu Bangsa Indonesia bukan hanya rindu akan kemerdekaan secara fisik, tapi juga merindukan kemerdekaan atas moral dan budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, dimana saat itu moral kolonialisme dan budaya Eropa terlalu lama dipaksakan untuk dijalani oleh masyarakat Indonesia.
Karena kita tahu bahwa penjajah Eropa datang bukan hanya untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, tapi juga datang membawa misi budaya dan agama.
Untuk melawan penjajah tersebut, maka pemuda dari berbagai wilayah, suku dan agama yang ada di seluruh Indonesia, bersatu dalam sebuah kongres di Jakarta, lalu mengikrarkan Sumpah Pemuda agar dapat mengusir penjajah dari bumi nusantara.
Di dalam naskah Sumpah Pemuda, tidak ada satupun kalimat yang menyangkut simbol agama tertentu, karena mereka tahu bahwa kalimat itu sudah mewakili semua agama.
Dan mereka sangat paham bahwa agama adalah kekuatan sejati yang selalu dimiliki dalam setiap nafas perjuangan, baik itu dalam bentuk perjuangan fisik ataupun dalam bentuk perjuangan diplomasi.
Jadi mereka tak mungkin memaksakan keyakinan agamanya untuk dituangkan ke dalam naskah lalu harus diikuti oleh orang yang berbeda keyakinan. Terlebih lagi persatuan menjadi syarat mutlak untuk melawan penjahahan.
Jika saat itu terjadi pemaksaan simbol agama tertentu kedalam naskah Sumpah Pemuda, dengan mengutamakan arogansi kebenaran sempit atau sikap sekatarian kedaerahan, maka yang terjadi hanya kerancuan dan kegaduhan.
Alhasil tak akan pernah negara ini meraih kemerdekaan seperti apa yang kita rasakan sekarang. Tak pernah ada cerita heroik dari teriakan lantang merdeka atau mati dari pemuda yang nembawa bambu runcing. Yang ada hanya saling hujat dan saling bunuh antar pribumi.
Bahkan hal yang paling menakutkan jika Indonesia tidak meraih kemerdekaan, maka apa yang terjadi di benua Amerika dan Australia, akan terjadi juga di Nusantara. Terlihat jelas orang-orang Eropa sampai saat ini masih menguasai tanah yang bukan miliknya.
Padahal orang asli tanah Amerika adalah orang-orang Indian yang berkulit kemerahan dan Australia milik orang Aborigin yang berkulit hitam.
Namun yang terlihat kini menguasai adalah orang -orang Eropa berkulit putih yang berasal dari ribuan kilometer jauhnya. Mereka juga menguasai pemerintahan serta semua sektor kehidupan kelas atas yang rentan terjadi diskriminasi dan penindasan.
Sementara kaum pribumi tetap berada dibawah, menjadi pelayan yang menuangkan teh kedalam cangkir para tuan dan nyonya bangsa Eropa atau membuka pintu mobil disaat mereka akan turun dari kendaraannya. Semua itu terjadi hanya karena lebih mementingkan keyakinan buta yang dipaksakan, lalu tak mau terikat dalam ikatan persatuan.
Dan hari ini kita sangat bersyukur dengan apa yang dilakukan oleh Pemuda Indonesia di zaman perjuangan. Sebelum mereka pergi, bahkan banyak diantaranya yang tidak mengalami kemerdekaan, mereka telah lebih dulu mengajari kita bagaimana caranya bersatu ditengah perbedaan. Tokoh-tokoh agama yang memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada saat ini, selalu memberi kesejukan dan semangat persatuan.
Bahkan ketika para tokoh agama menganjurkan jihad, itupun melawan para bule penjajah, bukan melawan saudaranya sendiri. Ironisnya, saat ini justru agama dijadikan topeng untuk berebut kekuasaan. Bahkan kalimat jihad sudah dimanipulasi oleh segelintir orang lalu digunakan untuk memaksakan syahwat dunianya.
Jangan sampai kekritisan para pemuda saat ini tergerus oleh budaya dari dari luar yang mereka katakan bahwa itu adalah ajaran agama. Mengagumi budaya luar diperbolehkan tapi jangan pernah melupakan budaya sendiri. Mempelajari ilmu dari luar diperbolehkan, tapi juga tidak kemudian merusak moral bangsa sendiri.
Jika ada yang tidak sepaham, jangan sampai ada kata-kata makian atau kalimat kasar lainnya, karena Pancasila sudah menjadi solusi bagi perbedaan, dan agama adalah sebuah komunikasi indah yang ramah serta penuh kasih sayang, dimana terdapat ruang kedamaian untuk menuju keselamatan.
Dan momentum Sumpah Pemuda adalah sebuah cerita untuk saat ini dan yang akan datang, bahwa menjaga persatuan sangat penting dilakukan, bahkan hal itu diajarkan oleh semua agama.
Maka dari itu, kembalilah kita memahami makna dari kalimat Sumpah Pemuda.
Kami bertanah air Indonesia
Kami berbangsa Indonesia
Kami berbahasa Indonesia.
Selamat Hari Sumpah Pemuda
28 Oktober 1928 – 2020
Penulis adalah mantan Aktifis Mahasiswa 98, Pendiri Mata Tunas 17 dan Lintas Racana serta pembina Pramuka dibeberapa sekolah di Jakarta dan Depok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here