Pemuda Asal Papua Ini Gunakan Rumput Hutan dan Pelepah Sagu Rubah Air Rawa Jadi Air Bersih

Iklan A2https://www.melanesian.id/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-09-30-at-20.04.53.jpeg

Sorong.M.ID – Masalah air bersih yang hingga kini menjadi persoalan utama masyarakat di wilayah Papua Barat, khususnya di daerah pesisir Papua Barat yang kawasannya berawa, mulai bisa diatasi.

Seperti diberitakan sindonews.com, solusi penanganan air bersih itu ditemukan oleh Mardanus Ramandey (39), pria asal Serui Papua, kelahiran Sorong, lulusan Teknik Informatika salah satu universitas di Bandung 2009.

Teknologi air bersih ini dikembangkan Mardanus di Kecamatan Inawatan, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Kawasan itu 100% berlumpur dan berawa. Dengan alat ciptaannya, air rawa yang bau diubah menjadi bersih dan bisa langsung diminum.

Untuk mengubah air rawa menjadi bersih dan bisa langsung diminum, Mardanus membuat bak penampungan air. Air berwarna dan mengandung minyak, serta logam itu kemudian didiamkan dalam bak penampungan air.

Di dalam bak itu, ditaruh bahan-bahan alami yang bisa mengubah air keruh menjadi bersih, seperti rumput ilalang hutan, dan pelepah sagu yang selanjutnya diproses ke dalam hydro water.

“Kenapa air itu susah sekali? Karena permukaan tanah lembek, berlumpur, dan lahan gambut. Kandungan logam dalam air juga cukup tinggi, dan zat perwarna alamnya cukup tinggi,” katanya, saat berbincang, Kamis (16/6/2016).

Dengan kondisi alam seperti itu, masyarakat sekitar menjadi sangat sulit mendapatkan air bersih. Bahkan, menjadi sangat mustahil, selain dari tergantung pada air hujan yang turun tidak tentu.

“Melihat kondisi tanah tersebut, daerah ini mengandung gas, airnya kuning kemerah-merahan dan berminyak. Ditambah posisi tanahnya berada di atas permukaan laut, dua meter dari permukaan laut,” jelasnya.

Namun ternyata, pohon sagu yang sangat melimpah milik masyarakat adalah solusinya. Melalui endapan pohon sagu, air bisa menjadi bersih setelah direndam dalam bak, dan aman untuk langsung diminum.

“Pohon-pohon sagu milik warga setempat diambil pelepahnya, kemudian digabungkan dengan rumput hutan, lalu dimasukkan ke dalam bak penampung guna menyerap air yang berwarna, serta mengandung minyak dan logam,” terangnya.

Peran air hujan juga sangat penting. Karena air hujan yang menjadi pelarutnya. Pohon sagu meresap air hujan, sehingga terdapat kantong-kantong air di pohon sagu. Keberadaan pohon sagu di wilayah ini sangat melimpah.

Apalagi, sagu banyak dimanfaatkan untuk bahan pokok makanan warga. Pelepah sagu bisa memisahkan lumpur, warna air dan minyak yang terkandung di dalam air. Pelepah ini dibersihkan terlebih dahulu.

“Pelepah sagu kita bersihkan di bawah pohon sagu. Limbahnya bisa digunakan untuk meresap endapan air hujan. Dengan teknik memakai bak air sebagai penampung, dibuat keranjang, dimasukin pelepah sagu, dan rumput hutan,” ungkapnya.

Rumput hutan adalah jenis rumput yang tumbuh liar. Jenis rumput ini sangat banyak di lingkungan warga. Fungsi rumput ini untuk menghambat endapan bahan logam dan minyak yang meresap, serta dapat membuat air bersih.

Walau pun metode ini baru diuji coba di kawasan Papua Barat, namun hasilnya sudah dapat dirasakan oleh warga masyarakat setempat, di mana dengan dibautnya enam bak penampung, maka warga sudah dapat memikmati air bersih di daerah itu.

“Ini baru uji coba, namun setelah tahapan pertama, kedua dan ketiga saya lakukan, hasilnya sudah dapat dirasakan oleh warga masyarakat setempat, di mana untuk kedepannya bisa perkembangan selanjutnya,” jelasnya.

Ditambahkan dia, semakin banyak bak yang dipakai, air akan semakin jernih. Jadi secara kasat mata, bisa diliat langsung dari metode penggabungan ini, masyarakat dapat langsung meminum air bersih melalui metode ini.

“Dengan menggunakan metode ini, maka air payau dan berlumpur dapat dijernihkan dan airnya dapat langsung diminum oleh masyarakat. Metode alam, penggabungan teknologi modern dengan alamiah,” tegasnya.

Pengembangan metode ini, pertama kali dikembangkan Mardanus saat dirinya bekerja di hutan Kalimantan yang kondisi daerahnya hampir sama dengan hutan di Papua dan metode ini sudah dikembangkan di bebrapa daerah di Papua.

“Saya pernah coba di hutan Kalimantan, karena di Kalimantan hutannya hampir sama dengan hutan di Papua, seperti di Inawatan yang berawa. Metode ini juga digunakan di daerah Boven Digul, Kokoda, Inawatan, dan Waropen,” jelasnya.

Dengan temuan dan pengembangan inovasi baru ini, pemerintah diharapkan dapat melanjutkan hal tersebut guna kebutuhan masyarakat di wilayah pelosok Papua Barat yang sangat mendambakan air bersih.

”Hasil perpaduan dan teknik pengolahan ini dapat dikembangkan dikemudian hari, khususnya bagi mereka yang tinggal di wilayah mangruf (lahan gambut), seperti wilayah Kokoda, Bovendigul, Mugim, dan Matemani,” pungkasnya.

(Sindonews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here