Masih Klaim Sebagai Ketua Golkar Papua Barat, Rudi Timisela Diminta Sadar dan Baca Putusan MPG

Ketua Golkar Raja Ampat, Selviana Wanma
Sorong.M.ID – Ditengah suasana religius menyambut peringatan hari Pekabaran Injil yang ke-166 di Tanah Papua, kader Partai Golkar Papua Barat dikejutkan dengan banner yang beredar di media sosial dan WhatsApp Group (WAG), yang berisi ucapan dari Mozes Rudi Timisela.
Dimana dalam unggahan tersebut masih tercantum jabatan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Barat. Reaksi muncul dikarenakan secara hukum Mahkamah Partai Golkar (MPG) telah memutus sengketa hasil MUSDA Partai GOLKAR Papua Barat dengan amar “menyatakan tidak sah dan batal MUSDA III Partai GOLKAR” yang diselenggarakan oleh Rudi Timisela.
Implikasinya, dalam putusan yang sama bernomor: 13/PI-GOLKAR/VIII/2020 MPG memerintahkan penyelenggaraan MUSDA ulang dengan terlebih dahulu menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) sebagai penyelenggara MUSDA.
Ketua DPD Partai GOLKAR Kabupaten Raja Ampat Selviana Wanma, SH dalam keteranggannya kepada media menyatakan bahwa sejak diucapkan dalam sidang terbuka, putusan MPG seketika berkekuatan hukum dan mengikat para pihak yaitu para pemohon dan termohon beserta subjek hukum yang disebutkan dalam putusan a quo.
Kekuatan hukum putusan tersebut menurutnya karena atas putusan MPG tidak lagi tersedia upaya hukum, sehingga final and binding. Sehingga para pihak tidak cukup sekedar menghormati putusan MPG tetapi juga harus mentaati putusan tersebut.
“Hal mana yang mesti ditaati adalah bahwa MPG membatalkan MUSDA tanggal 15-16 Agustus, kemudian DPP menunjuk Plt untuk melaksanakan MUSDA ulang. Jadi dengan perintah menunjuk Plt, dan hasil MUSDA dibatalkan maka jabatan Ketua DPD Partai GOLKAR Provinsi Papua Barat saat ini dalam keadaan kosong. ,”ungkapnya.
Hal ini kata Wanma berbeda halnya, jika MPG memerintahkan Rudi Timisela menyelenggarakan kembali MUSDA, bermakna Rudi Timisela masih Ketua sampai dengan terpilih Ketua periode selanjutnya.
“Ini kan sudah terang benderang, Musdanya Rudi Timisela dan Robert Kardinal sebagai pimpinan MUSDA tidak sah dan batal. Sudah final and binding sejak diucapkan karena tidak tersedia upaya hukum atas putusan MPG, harus ditaati dong, kalau sadar hukum dan sadar diri sebagai kader. Putusannya untuk ditunjuk Plt oleh DPP, dan Musda yang lalu batal, maknanya jabatan Ketua itu kosong, berbeda halnya kalau Rudi yang disuruh bikin MUSDA ulang itu berarti dia masih ketua sampai ada ketua terpilih periode selanjutnya,” jelasnya.
Selvi melanjutkan, bahwa sebelum menjatuhkan putusan MPG terlebih dahulu mempertimbangkan tindakan yang dilakukan Rudi Timisela, dalam pertimbangan hukum Mahkamah tegas dinyatakan bahwa Rudi Timisela melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang (abuse of power).
Karenanya menurutnya, berdasarkan pertimbangan hukum tersebut rudi jangan lagi menambah daftar pelanggarannya dengan mengaku diri sebagai Ketua DPD Golkar Papua Barat.
Tindakan mengaku diri masih sebagai ketua dan disebarluaskan melalui media sosial kata Wanma adalah bentuk membohongi publik. Selain itu tindakan tersebut sama saja merendahkan martabat MPG sebagai badan peradilan di partai GOLKAR (contempt of court).
“Jelas sekali di pertimbangan hukum MPG, Rudi menyalahgunakan wewenang (abuse of power), bukan kata saya lho, ada di pertimbangan halaman 138, kalua dia tidak punya putusannya bisa saya copy dan kirimkan agar dibaca baik-baik. Jadi janganlah lagi mengaku diri sebagai ketua dan gembar-gembor di medsos, daftar pelanggaran sudah banyak. Kalau masih juga mengaku diri ketua sama saja merendahkan martabat MPG, contempt of court namanya itu,”lanjut Wanma.
Perempuan asli Raja Ampat ini menambahkan bahwa dirinya pasca putusan MPG selalu menahan diri untuk tidak terpancing dengan gerakan yang dilakukan kelompok yang kalah dalam sengketa MPG yang menurutnya adalah gerakan untuk melawan perintah MPG dan DPP partai GOLKAR.
Namun publik harus tercerahkan dengan info yang sesuai fakta sehingga dirinya lagi-lagi harus bersuara di media demi kepentingan partainya. Ditengah suasana penuh damai menyambut hari perkabaran injil, ia mengaku masih bisa lebih “slow” dalam menanggapi gerakan kelompok yang kalah sembari berdoa agar oknum-oknum tersebut segera sadar dan menerima realita.
“Saya ini sudah gemas sebenarnya dengan manuver-manuver kelompok yang kalah sengketa itu, tidak usah sebut nama pasti sudah tahu lah. Namun ini kan kita menyambut hari sakral bagi umat di Papua, jadi saya agak slow saja. Yang masih dalam mimpi masih menjabat saya dan kawan-kawan kader berdoa semoga cepat sadar, bangun dari mimpi dan terima kenyataan. Barangkali ini juga dipengaruhi suasana kebatinan pasca pilkada yang kita tahu lah hasilnya. Jadi itu saja, semoga cepat sadar,”pungkasnya.
(DAI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here