Kita Semua Adalah Pahlawan

vetris
Iklan A2https://www.melanesian.id/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-09-30-at-20.04.53.jpeg
Oleh : Satriano Al Vetris
Peristiwa perlawanan pemuda dan rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia dari rongrongan bangsa asing, puluhan tahun silam mengakibatkan puluhan ribu rakyat dan pejuang Indonesia gugur sebagai pahlawan. Kini setiap tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Hari Pahlawan Nasional bukan hanya menjadi cerita heroisme atau hanya sebagai simbol semata, melainkan sebuah energi yang begitu kuat, dan ingin disalurkan kepada generasi yang akan datang, untuk menjaga kedaulatan bangsa dan menolak segala bentuk intervensi yang tidak sesuai dengan prinsip kemerdekaan.
Sebegitu pentingnya kedaulatan bangsa, hingga rakyat dan para pejuang rela membayar dengan puluhan ribu nyawa.
Perlu diketahui, bahwa tentara sekutu adalah pemenang perang dunia 2. Ditambah lagi dengan perlengkapan senjata yang lebih modern. Tapi itu tak menjadi alasan rakyat Indonesia untuk takut menghadapi siapapun yang akan merusak kedaulatan Republik yang tercinta ini.
Jadi sangat lumrah jika mereka yang terlibat didalam mempertahankan kemerdekaan dinyatakan sebagai pahlawan.
Ironisnya, saat ini permasalahan tentang intoleransi dan radikalisme cukup memprihatinkan. Akibat dari doktrin yang salah dengan membungkus ajaran agama yang dimanipulasikan, sangat rentan memporak – porandakan kedaulatan bangsa.
Bahkan diantara mereka banyak yang lebih senang mengibarkan bendera luar dari pada bendera merah putih. Entah apakah mereka tidak merasakan betapa pahit untuk menjaga itu semua.
Namun bagi mereka yang tidak buta agama dan mengerti tentang kedaulatan bangsa, selanjutnya tidak akan ikut-ikutan menyebar isu kebencian, karena mereka lebih memahami bahwa agama selalu mengajarkan kedamaian.
Dan bagi mereka yang menyebarkan tentang kedamaian untuk melawan kebencian, patut juga dikatakan pahlawan. Artinya, untuk menjadi pahlawan tidak perlu mengangkat senjata lagi. Jika kedaulatan bangsa ini menjadi sangat penting, maka jadilah pahlawan penjaga kedaulatan selama jiwa masih bersemayam didalam jasad dan kita masih merasa bagian dari Indonesia.
Tetapi jika hanya ingin mengembangbiakkan ideologi yang akan menghancurkan ideologi Pancasila, lebih baik jangan berlindung di tanah Nusantara.
Banyak yang dapat kita lakukan untuk menjadi pahlawan di negri ini. Misalnya, seorang guru dengan giat mengajarkan kepada murid-muridnya tentang hal yang berkaitan dengan unsur patriotisme, lalu menangkis doktrin yang bersebrangan dengan Pancasila terutama ajaran agama yang menyesatkan yang rentan menciptakan kekerasan dan kebencian.
Mengingat guru menaungi banyak murid yang berusia remaja, dimana usia remaja masih sangat labil dalam menerima informasi. Bahkan seorang siswa bisa dikatakan sebagai pahlawan jika dapat mengedepankan kebudayaan Indonesia didalam kehidupannya sehari-hari. Atau bisa juga mengabaikan berita hoax yang dapat memperkeruh dan mengadu domba antar sesama.
Tetapi, bukan hanya guru dan siswa yang bisa menjadi pahlawan, semua dari kita bisa menjadi pahlawan.
Mungkin ini baru soal bahaya ideologi, masih banyak bahaya lain yang rentan merusak sendi kehidupan bernegara. Bahaya lain yang merugikan bangsa dan harus berani kita lawan. Jenis perlawanan bukan hanya melulu soal kekerasan.
Jangan sampai ketika kita ingin menghalau pelanggaran, dilain pihak justru kita sendiri yang melakukan pelanggaran. Beberapa pelanggaran yang harus kita lawan misalnya maraknya penyebaran narkoba, mendarah dagingnya praktik korupsi dan lain sebagainya.
Karena untuk melawan hal tersebut membutuhkan keberanian yang tidak kalah dengan berperang mengangkat senjata melawan penjajah. Bukankah Presiden RI Soekarno pernah mengatakan, “Melawan bangsa asing lebih mudah daripada melawan bangsa sendiri.”
Selamat Hari Pahlawan
10 November 1945-2020
Penulis adalah mantan aktifis 98, pendiri Lintas Racana, Wakil Ketua umum Gerakan Relawan Indonesia (GRI) dan pembina Pramuka diberbagai sekolah Jakarta dan Depok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here